Alasan Mengapa Ijab Qabul Dilakukan Dengan Satu Nafas

Dalam kehidupan orang yang sudah menginjak usia matang dan dewasa pastinya ingin melangsungkan momen pernikahan yang sakral.

 

Di momen pernikahan tersebut, sebagai gerbang utama bagi calon pasangan suami istri untuk terikat dalam ikatan perkawinan harus melewati proses ijab qabul.

 

Proses ijab qabul ini juga dianggap menjadi hal yang sangat penting karena menyangkut akan sah atau tidaknya calon pasangan suami istri dalam akad nikah.

 

Kemudian, di beberapa daerah di Indonesia yang ada satu pemahaman yang cukup unik di kalangan masyarakat bahwa saat pria mengucapkan qabul harus dilakukan dengan satu nafas.

 

Maksud dari satu nafas adalah tidak boleh mengucapkannya secara sepatah-sepatah dan harus terdengar dengan nada yang lantang juga.

 

Tak ayal, hal ini juga cukup menjadi beban bagi beberapa mempelai pria. Apabila mereka tidak mengucapkan kalimat qabulnya dalam satu napas, terkadang saksi menyatakan tidak sah dan meminta mempelai prianya untuk mengulangi prosesi ijab qabul atau akad nikah ini.

 

Di tengah rasa gugup dalam menghadapi prosesi akad nikah dan juga harus berusaha agar dapat lancar dalam mengucapkannya dalam satu nafas.

 

Jadi, seperti apa Islam memandang hal ini? Apakah sesuai dengan yang dianjurkan dalam Islam atau hanya sebuah tradisi dalam masyarakat di sebuah daerah?

 

Mengenai hal ini, ternyata tidak ada firman Allah atau Sunnah Nabi yang memerintahkan agar mengucapkan ijab qabul dalam satu nafas. Bahkan, hal ini oleh para ulama dianggap terlalu berlebihan.

 

 

Berikut ini adalah beberapa pendapat untuk meluruskan pemahaman terkait syarat Ijab Qabul yang harus menggunakan satu nafas:

 

1. Qabul boleh disegerakan dan boleh ada jeda dari ijab

 

Pada dasarnya ucapan qabul atau  ‘saya trima nikahnya’ harus segera diucapkan setelah wali mengucapkan Ijab.

 

Namun, ulama menanggapi hal ini dengan perbedaan pandangan bahwa ada yang mengatakan boleh ada jeda asal masih dalam satu majelis.

 

Hal ini pun diperkuat oleh sebuah mazhab dari Imam Hanafi dan Hambali yang tidak menganjurkan harus segera mengucapkan qabul tanpa jeda. Tetapi, harus dalam satu majelis dan tidak boleh memutuskan konteks pembicaraan.

 

Kutipan dari Imam Hanafi dan Hambali seperti berikut ini:

 

 

”Hambali dan Hanafi berpendapat bahwa ’segera’ bukan syarat, selama masih dalam satu majlis. Namun jika salah satu sibuk melakukan aktivitas lain, yang memutus konteks pembicaraan, akad nikah tidak sah.” (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah, 4/16).

 

Kemudian, Imam Ibnu Qudamah – ulama hambali pun mengatakan, berikut kutipannya:

 

“Apabila kalimat qabul tidak langsung disampaikan setelah ijab, akad tetap sah. Selama masih dalam satu majlis, dan mereka tidak menyibukkan diri sehingga tidak lagi membicarakan akad. Karena hukum satu majlis adalah hukum yang sesuai konteks akad.” (al-Mughni, 7/81).

 

Di luar dari hal di atas, ada pendapat lain dari ulama yang mengharuskan untuk segera menjawab ijab tanpa jeda terlebih dahulu.

 

Hal ini diperkuat oleh sebuah pendapat dari dua orang yang ulama bernama Syafiiyah dan Malikiyah bahwa tidak boleh ada pemisah, selain jeda ringan yang tidak sampai dianggap pemisah antara ijab dan qabul.

 

Berikut kutipan pendapat dari ulama Syafiiyah dan Malikiyah mengenai pernyataan di atas:

 

 

”Syafiiyah dan Malikiyah mempersyaratkan harus segera. Namun tidak masalah jika ada pemisah ringan, yang tidak sampai dianggap telah memutus sikap ’segera’ dalam menyampaikan qabul.” (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah, 4/16).

 

Menurut sebuah kutipan tentang ijab qabul seperti di bawah ini, ada dua ulama yang berpendapat, yang pertama Nikah sah. Ulama tersebut adalah Syaikh Abu Hamid al-Isfirayini. Beliau berpendapat bahwa bacaan hamdalah dan shalawat disyariatkan ketika akad, sehingga tidak menghalangi keabsahannya.

 

”Jika antara ijab dan qabul dipisahkan dengan membaca hamdalah dan shalawat, misalnya, seorang wali mengatakan, ’Saya nikahkan kamu.’ Kemudian suami mengucapkan, ‘Bismillah wal hamdu lillah, was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, Saya terima nikahnya.’

 

Hal ini kemudian diperkuat dengan kutipan seperti berikut ini.

 

“Sebagaimana orang yang melakukan tayamum di sela-sela antara dua shalat yang dijamak. (kedua) tidak sah. Karena dia memisahkan antara ijab dan qabul, sehingga akad nikah tidak sah.” (Fikih Sunah, Sayid Sabiq, 2/35).

 

 

2. Proses Ijab Qabul harusnya diucapkan dalam satu majelis.

 

Para ulama bersepakat bahwa prosesi Ijab Qabul dalam sebuah pernikahan harus dilakukan dalam satu majelis. Ini berarti bahwa antara orang tua perempuan dan dengan calon mempelai prianya tidak berada dalam tempat terpisah, tetapi pada satu tempat dan keadaan yang sama.

 

Meskipun ada sedikit pengecualian bahwa dalam sebuah kondisi misalnya, apabila Ijabnya dilakukan di rumah wali perempuan maka Qabulnya tidak boleh disambung di tempat lain. Pada kasus ini bisa dianggap tidak sah dan diperkuat dalam kitab fikih 4 madzhab yang dinyatakan dalam kutipan seperti di bawah ini.

 

”Para ulama 4 madzhab sepakat ijab qabul harus dilakukan dalam satu majlis akad. Sehingga andaikan wali mengatakan, ’Saya nikahkan kamu dengan putriku’ lalu mereka berpisah sebelum suami mengatakan, ’Aku terima’. Kemudian di majlis yang lain atau di tempat lain, dia baru menyatakan menerima, ijab qabul ini tidak sah.” (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah, 4/16).

 

 

 

Jadi, kesimpulannya bahwa tidak ada syarat atau alasan yang mendasari bahwa pengucapan Ijab Qabul dalam sebuah akad pernikahan itu harus dengan satu nafas.

 

Mungkin hal ini sudah menjadi budaya, atau kebiasan pada suatu masyarakat di beberapa daerah saja. Meskipun, tidak ada yang melarang apabila proses Ijab Qabul dimana mempelai pria harus mengucapkannya dengan satu nafas.

 

Pasalnya hal ini juga tidak bertentangan dengan syarat sahnya Ijab Qabul dalam sebuah pernikahan.

 

Namun, di luar sana beberapa orang atau kalangan menilai bahwa aturan satu nafas ini dilakukan untuk  menunjukkan iktikad baik antara kedua belah pihak baik saksi dan calon mempelai pria. Walaupun sekali lagi, tidak tidak ada peraturan yang mendasari dan mengharuskannya.

 

 

 

Sumber:

 

  1. http://www.infoyunik.com/2016/06/benarkah-ijab-qabul-harus-satu-nafas.html

 

  1. https://islam.nu.or.id/post/read/96278/ijab-kabul-pernikahan-harus-satu-napas-benarkah
Posted in Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *